JEMBATAN EMAS PENDIDIKAN: MENGURAI BENANG KUSUT KESENJANGAN BIAYA ANTARA URBAN DAN 3T, MENUJU GRAND DESIGN REDISTRIBUSI PEMBIAYAAN YANG MENCERAHKAN BANGSA

Authors

  • Siti Yulianah Universitas Mulawarman
  • Andi Sirajuddin Universitas Mulawarman
  • Agus Santosa Universitas Mulawarman
  • Widyatmike Gede Mulawarman Universitas Mulawarman

DOI:

https://doi.org/10.36277/basataka.v8i2.1068

Keywords:

Kesenjangan Pendidikan, 3T, Equivalent Per Student Funding (EPSF), Redistribusi, Afirmatif

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengurai ketimpangan pembiayaan pendidikan antara wilayah urban, SMA N 1 Sangata Utara dan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), SMA N 2 Sandaran serta merumuskan grand design redistribusi yang berkeadilan dan kontekstual bagi sistem pendidikan nasional. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi kasus jamak komparatif dan analisis kebijakan mendalam, penelitian ini membandingkan model pembiayaan serta biaya riil penyelenggaraan pendidikan antara sekolah urban dan 3T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya operasional riil per siswa di wilayah 3T rata-rata 38% lebih tinggi dibandingkan wilayah urban akibat faktor geografis, logistik, dan keterbatasan infrastruktur. Ketimpangan ini diperparah oleh model pembiayaan seragam seperti dana BOS yang tidak mempertimbangkan indeks kemahalan wilayah (IKW) dan kebutuhan spesifik lokal. Sebagai solusi, penelitian ini mengembangkan Equivalent Per-Student Funding (EPSF), model formula anggaran berbasis kebutuhan yang memperhitungkan biaya dasar, indeks kemahalan, insentif guru, dan alokasi sarana minimum. Grand design yang dihasilkan dibangun atas tiga pilar utama: equity-based funding, insentif guru berbasis wilayah, dan block grant infrastruktur terintegrasi. Implementasi model EPSF diyakini dapat menjadi pondasi kebijakan afirmatif menuju “Jembatan Emas Pendidikan”, yang menjamin kesetaraan mutu dan keadilan spasial bagi seluruh peserta didik Indonesia.

References

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2021). Laporan pembangunan berkeadilan spasial di Indonesia. Jakarta: Bappenas.

Baker, D., Lee, J., & Smith, T. (2021). Education financing and equity: Comparative lessons from OECD countries. New York, NY: Routledge.

Chairul Omar Muchtar, C. O., Rahmawati, N., & Putri, A. N. (2023). Ketimpangan pendidikan di Indonesia: Kajian sistematis faktor infrastruktur, guru, dan kebijakan. Lontara Digitech Journal, 4(2), 45–60.

Esti Rahayu, E., & Mimin Nur Aisyah, M. N. (2018). Efektivitas penggunaan dana BOS di sekolah menengah kejuruan. Jurnal Pendidikan Vokasi, 8(3), 215–227. Universitas Negeri Yogyakarta.

Fitriani, N., & Supriadi, D. (2019). Kesenjangan biaya pendidikan di wilayah tertinggal: Analisis kebijakan BOS di Indonesia Timur. Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, 16(1), 55–70

Hanushek, E. A., & Woessmann, L. (2015). The knowledge capital of nations: Education and the economics of growth. Cambridge, MA: MIT Press.

Hanushek, E. A., & Woessmann, L. (2020). The knowledge capital of nations: Education and the economics of growth (Updated ed.). Cambridge, MA: MIT Press.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). (2023). Laporan evaluasi Dana BOS nasional tahun 2023. Jakarta: Kemendikbudristek.

Kemendikbudristek. (2023). Laporan evaluasi Dana BOS nasional tahun 2023. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kurniawan, R., & Rakhmawati, E. (2022). Analisis efektivitas peningkatan dana BOS terhadap hasil belajar siswa di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik ISEI, 9(1), 33–48.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Musgrave, R. A., & Musgrave, P. B. (1989). Public finance in theory and practice. New York, NY: McGraw-Hill.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2022). Education at a glance 2022: OECD indicators. Paris: OECD Publishing.

Rawls, J. (1971). A theory of justice. Cambridge, MA: Harvard University Press

Sari, M., & Hapsari, D. (2020). Biaya tersembunyi dalam pembiayaan pendidikan di daerah tertinggal: Studi kasus wilayah Indonesia Timur. Jurnal Pendidikan dan Kebijakan Publik, 10(2), 88–102.

Setyadi, S. (2022). Determinants of educational inequality between urban and rural areas in Indonesia. Jurnal Pendidikan Ekonomi FEB UNSOED, 14(1), 1–15.

SMERU Research Institute. (2020). Systematic inequality between urban and rural areas: Education access and outcomes in Indonesia. Jakarta: The SMERU Research Institute.

Tilaar, H. A. R. (2011). Manajemen pendidikan nasional: Kajian pendidikan masa depan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. (1945). Pasal 31 tentang pendidikan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (2003). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). (2020). Global education monitoring report 2020: Inclusion and education – All means all. Paris: UNESCO.

World Bank. (2021). Improving education financing in Indonesia: Toward equity and efficiency. Washington, DC: The World Bank.

Yin, R. K. (2018). Case study research and applications: Design and methods (6th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Downloads

Published

2025-12-30

How to Cite

Yulianah, . S. ., Sirajuddin, A. ., Santosa, A. ., & Mulawarman, W. G. . (2025). JEMBATAN EMAS PENDIDIKAN: MENGURAI BENANG KUSUT KESENJANGAN BIAYA ANTARA URBAN DAN 3T, MENUJU GRAND DESIGN REDISTRIBUSI PEMBIAYAAN YANG MENCERAHKAN BANGSA . Jurnal Basataka (JBT), 8(2), 1259–1274. https://doi.org/10.36277/basataka.v8i2.1068